Minggu, 11 November 2012

Carut-Marut Pendidikan di Indonesia

Pendidikan di Indonesia tidaklah akan ada habisnya kita bahas seperti kita membahas para koruptor di luar sana. Ini dikarenakan banyak sekali hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan di Indonesia, mulai dari yang bagus ataupun yang buruk.

Sistem pendidikan di Indonesia saat ini sangatlah jauh tertinggal dengan negara lain. Bahkan dari negara tetangga kita sendiri yang notabene dulu mereka mengirimkan para guru terbaik mereka ke sini untuk mempelajari sistem pendidikan di Indonesia, sehingga mereka dapat mempraktekkan di negaranya masing-masing. Dan yang lebih mengenaskan lagi adalah sekarang banyak sekali anak-anak Indonesia yang mampu, lebih memilih untuk bersekolah di Luar Negeri. Bukti nyata bahwa pendidikan di Indonesia mulai kurang di percaya. Perubahan kurikulum yang hampir setiap tahun, kurang lebih membuat para Guru pun kebingungan untuk menentukan materi yang harus diajarkan. Saya ingat sekali pada waktu saya masih SMP, lebih tepatnya SMP kelas VIII. Di sekolah saya itu sudah mempraktekkan 3 kurikulum sekaligus. Kelas IX dengan kurikulum 1994, kelas VIII dengan KBK dan kelas VII dengan KTSP. Tapi nyatanya? Prakteknya pun tidak jauh berbeda antara kurikulum1994, KBK dan KTSP. Dan ini pun berdampak pula dengan buku-buku yang digunakan. Pemerintah dengan jelas melarang sekolah-sekolah menjual buku, sedangkan buku yang dicetak di luar pun masih banyak kurikulum yang belum berubah saat itu. Meminjam dengan kakak kelas pun juga tidak bisa karena perbedaan kurikulum. Hal ini lah yang membuat para siswa susah beradaptasi dan membuat tujuan kurikulum yang digunakan gagal diterapkan.

Selain itu, hal yang membuat kondisi pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan, yaitu adanya perbedaan jauh infrastruktur yang ada antara sekolah yang di perkotaan dengan dengan yang berada di daerah. Jangankan sekolah yang berada di luar Pulau Jawa, sekolah yang berada di pinggiran kota Jakarta saja masih banyak yang kurang memadai fasilitasnya. Sering kali kita mendengar sekolah yang atapnya roboh, yang terpaksa belajar di kandang kambing ataupun hal-hal menyedihkan lainnya yang seharusnya tidak lagi ada di negara yang sudah 67 tahun merdeka ini. Saya pribadi sebenarnya miris sekali melihat berita-berita seperti ini bermunculan di TV. Kenapa? Karena saya yakin sekali bahwa banyak anak-anak Indonesia yang mempunyai semangat belajar yang tinggi tetapi terhalang oleh infrastruktur sekolah dan biaya. Khusus dengan masalah biaya, saya bersyukur sekali karena sekarang sekolah digratiskan hingga SMA, meskipun saya juga kurang mengerti bagaimana dengan mekanismenya. 

Hal miris lainnya yang saya alami akhir-akhir ini adalah mengenai tawuran antar pelajar. Entah siapa yang harus disalahkan dalam kejadian tersebut. Sekolah kah? Guru kah? Atau Orang tua? Tetapi menurut pendapat pribadi saya, sekolah dan guru-guru pun memegang peranan yang penting dalam mencegah hal-hal tersebut. Sama seperti ketika para pelajar menyerap ilmu dan hal baik dari seorang guru, mereka pun menyerap berbagai hal yang buruk. Seperti kata pepatah "Guru kencing berdiri murid kencing berlari".

Kekerasan dalam dunia pendidikan juga tidaklah dibenarkan. Masih banyak sekali para Guru yang kurang bisa menahan emosi mereka dalam mendidik anak-anak. Tidak hanya kekerasan secara fisik, kekerasan secara seksual juga masih sering terjadi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka melakukan tindakan tidak senonoh tersebut. Dan saya juga berpendapat bahwa tenaga pendidik yang ada sekarang ini tidak lagi memiliki dedikasi yang sama seperti dulu, yaitu untuk mencerdaskan bangsa ini. Meskipun masih banyak juga yang memilih mengabdikan diri mereka untuk  benar-benar mencerdaskan bangsa tanpa terkecuali. Seperti yang pernah saya lihat dalam suatu tayangan berita di televisi. Ada seorang siswi yang tidak diperbolehkan bersekolah di sekolahnya itu hanya karena dia kedapatan sedang hamil dan sekolahnya itu beranggapan bahwa hal tersebut akan membuat citra yang buruk bagi sekolah. Sungguh miris sekali! Meskipun siswi tersebut bisa hamil karena kesalahan sendiri, tetapi bukan berarti sekolah bisa seenaknya menolak siswi tersebut yang masih punya semangat untuk belajar untuk bersekolah kembali. Apa salahnya dan seberapa beratnya sih menerima siswi itu dan tetap mengajar dengan sebaiknya untuk masa depan yang elbih baik bagi siswi tersebut?

Tidak melulu dengan kejelekan dari sistem pendidikan yang ada di Indonesia, masih banyak pula hal-hal positif yang bisa kita petik. Derasnya alur informasi dari berbagai macam media yang ada sekarang ini, membuat anak-anak Indonesia terkadang jauh lebih pintar daripada para Guru. Bukan berarti dengan adanya hal ini para Guru bisa lepas tangan begitu saja karena tidak selamanya informasi yang didapat benar adanya dan tetap membutuhkan Guru untuk membimbing. Salah satu contoh yang membanggakan dari para anak-anak Indonesia adalah dengan inovasi terbaru yang menggemparkan di tahun 2012 ini. Apalagi kalau bukan berhasil terciptanya mobil ESEMKA yang dibuat oleh para siswa SMK di Solo. Secercah harapan bagi bangsa ini bahwa masih ada anak-anak yang mau belajar dan membuat sesuatu yang membanggakan bagi negara ini.

Sistem pendidikan di Indonesia memang masih amburadul dan belum terstruktur dengan rapi. Maka dari itu saya berharap bahwa pemerintah bersama dengan pijak-pihak terkait bisa terus mengembangkan suatu sistem yang cocok bagi pendidikan di Indonesia ini, tidak hanya bagi mereka yang berada di kota besar khususnya Jakarta, tetapi kota-kota di pulau lain sehingga tidak ada lagi anak-anak yang memiliki masa depan suram hanya karena masalah infrastruktur yang tidak merata. Bukankah mencerdaskan kehidupan bangsa terkandung dalam pembukaan UUD 1945?

Sebagai penutup, saya juga ingin berbagi tentang suatu pepatah yang diucapkan oleh seorang Guru SD saya,  yang menjadi prinsip hidup saya saat ini, yaitu :
"Orang yang terjatuh dalam lubang yang sama sebanyak 3 kali, maka dia adalah orang yang bodoh". 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar