Senin, 14 Februari 2011

Ringkasan Teori-teori Organisasi

Teori Organisasi Klasik

Konsep-konsep tentang organisasi sebenarnya telah berkembang mulai tahun 1800-an, dan konsep-konsep ini sekarang dikenal sebagai teori klasik (classical theory), atau kadang-kadang disebut juga teori tradisional. Contoh organisasi yang telah menggunakan teori klasik sejak lama adalah Gereja Katolik Roma.

Teori klasik berkembang dalam 3 aliran : birokrasi, teori administrasi dan manajemen ilmiah. Birokrasi dikembangkan dari ilmu sosiologi, sedangkan teori administrasi dan manajemen ilmiah dikembangkan langsung dari pengalaman praktek manajemen. Teori administrasi memusatkan diri pada aspek makro dari organisasi. Aliran manajemen ilmuah memberi tekanan pada karyawan dan mandor dalam kegiatan perusahaan, atau elemen mikro sebagai suatu bagian dari proses kerja. 

Teori klasik mendefinisikan organisasi sebagai struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi, dan faktor-faktor lain yang terjadi bila orang-orang bekerja sama.



TEORI BIROKRASI

Teori ini dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya : The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism. Kata birokrasi bermula berasal dari kata legal-rasional. Organisasi disebut rasional dalam hal penetapan tujuan dan rancangan organisasi untuk mencapai tujuan terserbut. Organisai itu legal karena wewenangnya berasal dari seperangkat aturan, proseur dan peranan yang dirumuskan secara jelas. Menurut Weber bentuk organisasi yang birokratik secara kodratnya adalah bentuk organisasi yang paling efisien. Organisasi birokratik mempunyai karakteristik-karakteristik birokrasi. Berikut adalah karakteristik-karakteristikbirokrasi yang dikemukakan oleh Weber : 
  • Pembagian kerja yang jelas.
  • Hirarki wewenang.
  • Program rasional.
  • Sistem prosedur.
  • Sistem aturan
  • Hubungan-hubungan antar pribadi.
Jadi, birokrasi adalah sebuah model organisasi normatif, yang menekankan struktur dalam organisasi. Konsep teori birokrasi ini sekarang banyak digunakan di organisasi perusahaan,, sekolah-sekolah, peerintah dan organisasi-organisasi besar lainnya.


TEORI ADMINISTRASI

Teori Administrasi adalah bagian kedua dari teori organisasi klasik. Seperti teori klasik lainnya, teori administrasi juga berkembang sejak tahun 1900. Teori ini sebagian besar dikembangkan atas dasr sumbangan Henry Fayol dan Lyndall Urwick dari Eropa, serta Mooney dan Reiley di Amerika.

Henry Fayol, menyatakan bahwa semua kegiatan-kegiatan industrial dapat dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu :
  • Kegiatan-kegiatan teknikal (produksi, manufacturing, adaptasi).
  • Kegiatan-kegiatan komersial (pembelian, pemjualan, pertukaran).
  • Kegiatan-kegiatan finansial (pencarian suatu penggunaan optimum dari modal).
  • Kegiatan-kegiatan keamanan (perlindungan terhadap kekayaan dan personalia organisasi).
  • Kegiatan-kegiatan akuntansi (penentuan persediaan, biaya, penyusunan neraca dan laporan rugi-laba, statistik).
  • Kegiatan-kegiatan manajerial (perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian dan pengawasan). 
Fayol merasa bahwa walaupun manajemen hanya merupakan salah satu dari enam kelompok kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam perusahaan-perusahaan, barangkali merupakan hal yang paling penting. Maka dari itu, Fayol juga mengemukakan dan membahas 14 kaidah manajemen yang menjadi dasar perkembangan teori administrasi,
  • Pembagian kerja
  • Wewenang dan tanggung jawab
  • Disiplin
  • Kesatuan perintah
  • Kesatuan pengarahan
  • Mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi
  • Balas jasa
  • Sentralisasi
  • Rantai skalar
  • Aturan
  • Keadilan
  • Kelanggengan personalia
  • Inisiatif
  • Semangat korps
Di samping itu, Fayol memerinci fungsi-fungsi kegiatan administrasi menjadi "elemen-elemen" manajemen : perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemberian perintah (comanding), pengkoordinasian (coordinating), dan pengawasan (controlling). Pembagian kegiatan-kegiatan administrasi atas fungsi-fungsi ini dikenal sebagai Teori Fungsionalisme Fayol.

Gulick dan Urwick juga memperkenalkan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan pembagian kerja, koordinasi, penciptaan departemen-departemen yang disusun atas dasar tujuan, proses personalia dan tempat, dan penggunaan staf. Dasar-dasar teori organisasi klasik, menurut Urwick, bersifat universal. Ia juga menambahkan teknik analisa rentang kendali, hubungan lini-staf dan fungsionalisme.

Menurut Mooney dan Reilly, koordinasi adalah faktor terpenting dalam perencanaan organisasi  maupun bangun teori yang mereka kemukakan, berbeda dengan pendapat Weber. Mereka menekankan 3 prinsip organisasi yang mereka teliti dan temukan telah dijalankan dalam organisasi-organisasi pemerintahan, agama, militer dan bisnis. Ketiga prinsip itu adalah : 
  • Prinsip Koordinasi
  • Prinsip Skalar
  • Prinsip Fungsional


MANAJEMEN ILMIAH

Manajemen ilmiah dikembangkan sejak sekitar tahun 1900 oleh Frederck Winslow Taylor, telah dipergunakan cukup luas. Teori manajemen ilmiah masih banyak dijumapi dalam praktek-praktek manajemen modern. Manajemen ilmiah mempunyai 2 arti. Yang pertama, manajemen ilmiah merupakan penerapan metode ilmiah pada studi, analisa, dan pemecahan masalah-masalah organisasi. Sedangkan arti kedua, manajemen ilmiah adalah seperangkat mekanisme-mekanisme atau teknik-teknik (a bag of tricks)
untuk meningkatkan efisiensi kerja organisasi. 

Taylor mencoba mengembangkan metode kerja yang lebih efisien dengan mengadakan pendekatan ilmiah terhadap masalah-masalah manajemen. Sebagai hasilnya dia mengemukakan 4 kaidah dasar manajemen, yaitu : 
  • Menggantikan metode-metode kerja dalam praktek dengan berbagai metode yang dikembangkan atas dasar ilmu pengetahuan tentang kerja yang ilmiah dan benar.
  • Mengadakan seleksi, latihan-latihan dan pengembangan para karyawan secara ilmiah.
  • Pengembangan ilmu tentang kerja serta seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah harus diintegrasikan.
  • Mengembangkan semangat dan mental para karyawan melalui pendekatan antara karyawan dan manajer.


TEORI KLASIK : ANATOMI ORGANISASI FORMAL


Definisi Organisasi Formal

Tiga unsur pokok organisasi formal yang selalu muncul dalam literatur-literatur manajemen adalah :
  • Sistem kegiatan yang terkoordinasi
  • Kelompok orang
  • Kerjasama untuk mencapai tujuan
Definisi organisasi formal didapatkan dengan menggabungkan unsur-unsur tersebut.
Organisasi formal adalah sistem kegiatan yang terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan dibawah kekuasaan dan kepemimpinan.


Dasar-dasar organisasi menurut teori klasik


Tergantung pada 4 kondisi, yaitu :
  1. Kekuasaan
  2. Saling melayani
  3. Doktrin
  4. Disiplin

Tiga dasar teori organisasi formal  
  1. Pembagian kerja
  2. Proses skalar dan fungsional
  3. Struktur



Teori Organisasi Neoklasik 

Aliran pemikiran lebih lanjut yang muncul digambarkan sebagai neoklasik, dan secara sederhana dikenal sebagai teori atau aliran hubungan manusiawi (the human relations movement). Anggapan dasar teori neoklasik adalah menekankan pentingnya aspek psikologis dan sosial karyawan sebagai individu maupun sebagai bagian kelompok kerjanya. Atas dasar anggapan ini teori neoklasik mendefinisikan suatu organisasi sebagai kelompok orang dengan tujuan bersama. 

PERKEMBANGAN TEORI NEOKLASIK

Dengan ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia, penganut teori hubungan manusiawi menunjukkan bagaimana tiang dasar konsepsi klasik sangat ditentukan oleh kegiatan manusia.Lebih lanjut, pendekatan neoklasik mencakup uraian seistematis organisasi informal dan pengaruhnya pada organisasi formal.

 Munsterberg mengembangkan metode-metode tes psikologi ilmiah untuk mencari karakteristik fisik dan mental individu yang cocok dengan kebutuhan suatu jabatan. Jadi, pada dasarnya Munsterberg menekankanadanya perbedaan-perbedaan karakteristik individual dalam organisasi organisasi. Ia juga menambhakan adanya pengaruh faktor-faktor sosial dan budaya terhadap organisasi.

Peranan Elton Mayo yang memperkenalkan pemikiran pentingnya faktor manusia dalam organisasi sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan teori neoklasik. Para peneliti Hawthorne, mengemukakan pentingnya perasaan dan sikap para karyawan serta kelompok-kelompok kerja mereka. Disini jelas bahwa keterikatan pada organisasi informal atau kelompok sosial para pekerja lebih kuat pengaruhnya pada produktivitas kerja daripada keinginan perseorangan akan hasil yang lebih besar dan tuntutan formal organisasi. Dorongan akan efisiensi harus ditopang oleh pemahaman akan faktor manusiawi dalam kerja.

Studi Hawthorne memperkenalkan gagasan bahwa organisasi adalah suatu sistem terbuka dimana segmen-segmen teknis dan manusiawi saling berkaitan erat, Studi-studi tersebut juga menekankan pentingnya sikap karyawan dalam era dimana insentif upah dan kondisi kerja fisik sering dipandang sebagai satu-satunya faktor yang menentukan produktivitas. 


KRITIK DAN "USUL" PERUBAHAN NEOKLASIK PADA TIANG DASAR TEORI ORGANISASI FORMAL

Kritik dan perubahan-perubahan yang "diusulkan" oleh teori organisasi klasik dapat diuraikan berikut ini :
  • Pembagian kerja (Division of  Labor)
 Sejak pembagian kerja dilakukan, timbul masalah yang disebut anomie. Anomie adalah situasi dimana pedoman kerja tidak ada dan disiplin diri menjadi kurang. Oleh karena itu teori neoklasik mengemukakan perlunya :
  1. Partisipasi
  2. Perluasan kerja
  3. Management Bottom-Up
  • Proses-proses Skalar dan Fungsional
 Proses skalar dan fungsional menimbulkan berbagai masalah dalam pendelegasian wewenang da tanggung jawab. Asumsi yang dipergunakan teori klasik mengenai proses pendelegasian adalah bahwa kapasitas individu sama dengan wewenang fungsinya. Neoklasik menyatakan bahwa kapasitas dan kekuasaan tak dapat dikompensasikan, karena bukan merupakan satu-satunya hubungan; ada faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan terutama hasil kegiatan "kaki-tangan manusia".
  • Struktur Organisasi 
    Tentang struktur organisasi, teori neoklasik menyatakan bahwa struktur merupakan penyebab terjadinya pergeseran-pereseran internal di antara orang-orang yang melaksanakan fungsi yang berbeda-beda. Pergeseran-pergeseran ini terjadi terutama antara orang-orang operasional (lini) dan orang-orang staf, Menurut Melville Dalton penyebabnya adalah :
    1. Perbedaan tugas
    2. Perbedaan umur dan pendidikan
    3. Perbeadaan sikap
    • Rentang Kendali
    Neoklasik menyatakan bahwa rentang kendali atau rasio atasan-bawahan adalah tidak selalu 1 : 8  dan sebagainya. Penentuan rentang sangat tergantung pada perbedaan individu dalam kemampuan manajemennnya, tipe orangnya, efektivitas komunikasi, fungsi pengawasan formal, serta derajat sentralisasi, dimana neoklasik mengusulkan pengawasan bebas demokratis, sedang klasik memilih pengawasan ketat.
      

    PANDANGAN NEOKLASIK TERHADAP ORGANISASI INFORMAL

    Titik tekanan teori neoklasik adalah pada 2 elemen pokok dalam organisasi, yaitu perilaku individu dan kelompok pekerja. Faktor-faktor yang dapat menentukan munculnya organisasi informal, antara lain :
    1. Lokasi
    2. Jenis pekerjaan
    3. Minat
    4. Masalah-masalah khusus
    Selama pendekatan mengadapi organisasi informal dipusatkan pada manajemen, cukup beralasan untuk memperkirakan bahwa standar dan norma-norma kelompok informal dapat menyebabkan tidak jalannya kebijaksanaan organisasi formal. Usaha yang lebih baik bagi manajer adalah mengembangakan suatu hubungan kerja dengan organisasi informal yang dapat menghasilkan keselarasan pandangan organisasi foral dan informal.




    Teori Organisasi Modern


    Aliran besar ketiga dalam teori organisasi dan manjemen adalah teori modern, yang kadamng-kadang disebut juga analisa sistem pada organisasi. Teori modern melihat semua unsur organisasi sebagai satu kesatuan. Teori modern mengemukakan bahwa organisasi bukanlah suatu sistem tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil, tetapi organisasi adalah suatu sistem terbuka yang harus -- bila ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya -- menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungannya. Teori modern adalah multidisiplin dengan sumbangan dari berbagai bidang displin ilmu pengetahuan. Interaksi dinamis antar proses-proses, bagian-bagian dan fungsi-fungsi dalam suatu organisasi, maupun dengan organisasi lain, dan dengan lingkungannya, merupakan inti pembahasan teori modern.


    DASAR PEMIKIRAN TEORI ORGANISASI MODERN

    Teori organisasi dan manajemen modern dikembangkan sejak tahun 1950, walaupun beberapa tulisan telah dibuat sebelumnya.Teori modern dalam banyak hal yang mendasar berbeda dengan teori klasik. Teori modern, dengan tekanan pada perpaduan (synthesis) dan perancangan (design), menyediakan pemenuhan suatu kebutuhan yang menyeluruh.

    Dengan berkembangnya teknologi dan majunya kegiatan-kegiatn perlu konsep sistem.  Maka timbullah perhatian pada operasi atau proses organisasi. Disini dikemukakkan pentingnya perencanaaan, pengorganisasian, pengawasan, komunikasi, dan integrasi demi kesuksesannya operasi tujuan-tujuan organisasi. Teori modern bisa disebut sebagai teori organisasi dan manajemen umum yag memadukan teori klasik dan neoklasik dengan konsep-konsep yang lebih maju.

    Teori modern cenderung memandang organisasi sebagai siste terbuka, dengan dasar analisa konsepsual, dan didasarkan pada data empiris, serta sifatnya sintesa dan integratif. Sistem terbuka itu pada hakekeatnya merupakan transformasi masukan yang menghasilkan keluaran ; transformasi terdiri dari aliran informasi, bahan dan energi. Sedang pengertian sistem itu sendiri adalah sekelompok bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Sistem terdiri dari subsistem tujuan, manajerial, teknis, psikososial dan struktural.

    Teori modern menyebutkan bahwa kerja suatu organisasi adalah sangat kompleks, dinamis, multilevel, multidimensional, multivariabel dan probabilistik. Sebagai suatu sistem, organisasi terbagi menjadi 3 unsur, yaitu : 
    1. Unsur struktur yang bersifat makro
    2. Unsur proses yang juga bersifat makro
    3. Unsur perilaku anggota organisasi yang bersifat mikro
    Dengan analisa sistem, teori organisasi modern mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang saling berhubungan, dimana hal ini kurang ditekankan pada 2 teori organisasi lainnya.


    Teori Sistem Umum 

    Teori Sistem Umum  merupakan suatu aspek analisis organisai yang berusaha untuk menemukan kaidah-kaidah umum organisasi yang berlaku universal. Tujuan teori sistem umum adalah penciptaan suatu ilmu pengetahuan organisasional universal dengan menggunakan elemen-elemen dan proses-proses umum seluruh sistem sebagai titik awal. 

    Ada beberapa tingkatan sistem yang harus diintegrasikan. Kenneth Boulding mengemukakan klasifikasi tingkat-tingkat sistem sbb : 
    • Struktur statik
    • Sistem dinamik sederhana
    • Sistem sibernetik
    • Sistem terbuka
    • Sistem genetika sosial 
    • Sistem hewani
    • Sistem manusiawi
    • Sistem sosial
    • Sistem transedental
    Konsep sistem ini menjadi dasr utama analisa organisasi dalam teori organisasi modern. teori organisasi modern mempunyai kesamaan dengan teori sistem umum dalam cara memandang organisasi sebagai sesuatu yang terintegrasi. Perbedaanya hanya terletak pada tingkatan yang dicakup dalam bahasanya. Teori sistem umum membicarakan setiap tingkatan sistem, sedangkan teori organisasi modern memusatkan diri terutama pada tingkat organisasi manusia. Secara ringkas, kedua teori ini mempelajari : 
    1. Bagian-bagian (individu-individu) dalam keseluruhan dan pergerakan individu di dalam dan di luar sistem.
    2. Interaksi individe-individu dengan lingkungan yag terjadi dalam sistem.
    3. Interaksi di antara individu-individu dalam sistem.
    4. Masalah-masalah pertumbuhan dan stabilitas sistem.

    Teori Organisasi Dalam Suatu Kerangka Sistem 

    Teori organisasi modern adalah multidisipliner yang konsep-konsep dan teknik-tekniknya dikembangkan dari banyak bidangstudi, seperti sosiologi, teori administrasi, ekonomi, psikologi, ekologi, operations research, dan banyak bidang-bidang lainnya. Faktor-faktor yeng membedakan kualitas teori organisasi modern dengan teori-teori organisasi lainnya adalah dasar konsepsional - analitiknya, sifat pemaduan dan pengintegrasiannya. Kualitas-kualitas ini merupakan kerangka filosofi yang diterima sebagai suatu cara untuk mempelajari organisasi sebagai suatu sistem. 

    Berikut ini akan diuraikan bermacam-macam unsur yang tecakup dalam analisis sistem, yaitu bagian-bagian organisasi sebagai suatu sistem, interaksinya, proses-proses dan tujuan-tujuan sistem.
    • Bagian-bagian dari sistem dan saling ketergantungannya. 
    1. Bagian dasar pertama sistem adalah individu, dan struktur kepribadiannya yang diberikan kepada organisasi. 
    2.  Bagian kedua sistem adalah penentuan fungsi-fungsi formal, yang biasa disebut organisasi formal. 
    3. Bagian ketiga dalam sistem organisasi adalah organisasi informal.
    4.  Bagian keempat adalah struktur status dan peranan. 
    5.  Bagian kelima adalah lingkungan fisik pekerjaan.
    •  Proses-proses hubungan dalam sistem
    1. Komunikasi. Komunikasi sebagai mekanisme yang menghubungkan bagian-bagian sistem secara bersama.
    2. Keseimbangan. Konsep keseimbangan adalah mengenai penyeimbangan mekanisme yang dicapai dengan jalan menjaga hubungan struktural yang harmonis antar bagian-bangian dalam sistem. Keduan bentuk keseimbangan ini, yaitu quasi-automatic dan inovatif, berusaha memelihara integritas sistem dalam menghadapi perubahan lingkungan, baik internal maupun eksternal, yang mempengaruhi sistem : Quasi-automatic dimaksudkan sebagai dinamika yang menjaga agar keadaan dalam sistem tetap stabil atau sering disebut sebagai homoestatis (keadaan stabil yang dicapai dengan dinamika bukan statis).
    3. Proses pengambilan keputusan. Merupakan varaibel internal dalam suatu organisasi yang tergantung pada pkerjaan-pekerjaan, harapan-harapan individu, motivasi dan struktur organisasi. Keputusan ini meliputi 2 hal pokok, yaitu keputusan untuk berproduksi dan keputusan untuk berpartisipasi dalam sistem. 
    • Tujuan-tujuan organisasi 
    Organisasi-organisasi mempunyai 3 tujuan utama yang saling berhubungan, seperti dalam kasus berbagai sistem kompleks, atau hasil akhirnya saling tergantung. Tujuan-tujuan ini adalah pertumbuhan, stabilitas dan interaksi. 
    • Definisi organisasi menurut teori modern
    Barnard mendefinisikan organisasi formal sebagai suatu sistem kegiatan-kegiatan yang secara sadar dikoordinasikan oleh 2 atau lebih orang. Atas dasar pendapat Barnard, kita dapat menarik kesimpulan tentang definisi teori modern. Teori modern mendefinisikan organisasi sebagai proses-proses yang tersususn dalam suatu sistem di mana orang-orang di dalamnya berinteraksi untuk mencapai tujuan. 


    PENDEKATAN-PENDEKATAN  MANAJEMEN

    • Pendekatan Proses 
    Pendekatan proses dalam manajemen juga disebut pendekatan fungsional, operasional, universal, tradisional atau klasik. Empat prinsip pendekatan proses klasik yang penting adalah : 
    1. kesatuan perintah
    2. persamaan wewenang dan tanggung jawab
    3. rentang kendali yang terbatas
    4. delegasi pekerjaan-pekerjaan rutin

    •  Pendekatan Keperilakuan 
    Pendekatan keperilakuan muncul karena ketidakpuasan terhadap pendekatan klasik. Pendekatan ini, sering disebut pendekatan hubungan manusiawi, mengemukakan bahwa pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja, karena mengabaikan faktor perilaku masing-masing individu yang berbeda-beda dalam organisasi. Pendekatan keperilakuan menekankan pentingnya kooperasi dan moral karyawan. 

    •   Pendekatan Kuantitatif
    Pendekatan kuantitaif sering dinyatakan dengan istilah management science atau operations research (OR). Pendekatan ini terutama memandang manajemen dari perspektif model-model matematis dan proses-proses kuantitatif. 

    Menurut pendekatan kuantitatif, masalah-masalah manajemen dapat dirumuskan dan dijabarkan dalam berbagai bentuk model dan matematis, dan kemudian dianalisa serta  dipecahkan dengan menggunakan berbagai teknik atau metode kuatitatif untuk memperoleh hasil optimum. Pendekatan ini menganalisa masalah-masalah manajemen secara logik dan mengembangkan berbagai alternatif keputusan pemecahannya.

    • Pendekatan Sistem 
    Pendekatan sistem dalam manajemen merupakan pendekatan yang ditetapkan paling akhir dan dapat dipahami dengan sudut pandangan teori sistem umum atau analisis sistem. Pendekatan sistem terutama menekankan saling ketergantungan dan keterikatan bagian-bagian organisasi sebagai keseluruhan. 

    Sebagai pendekatan dalam manajemen, sistem-sistem mencakup baik sistem-sistem umum dan terspesialisasi maupun analisis terbuka dan tertutup. Analisis berbagai sistem manajemen khusus meliputi bidang-bidang seperti struktur organisasi, desain pekerjaan, akuntansi, sistem informasi dan mekanisme-mekanisme perencanaan dan pengawasan. 

    • Pendekatan Contingency (Situasional)
    Pendekatan Contingency bermaksud untuk menjembatani gap yang ada antara teori dan praktek. Di samping itu, pendekatan contingency memasukkan variabel-variabel lingkungan dalam analisisnya, karena perbedaan kondisi lingkungan akan memerlukan aplikasi konsep atau teknik manajemen yag berbeda pula. 

    Jadi, pendekatan contingency muncul karena ketidakpuasan atas anggapan keuniversalan dan kebutuhan untuk memasukkan berbagai variabel lingkungan ke dalam teori dan praktek manajemen. Ada 3 komponen pokok dalam kerangka konsepsual untuk pendekatan contingency : lingkungan, konsep-konsep dan teknik-teknik manajemen, dan hubungan contingensy antara keduanya.  


    Sumber :  
    Organisasi Perusahaan, Teori Struktur dan Perilaku oleh: T.Hani Handoko Bab II, Bab III , dan Bab IV

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar